Pernah nggak kamu liburan ke suatu tempat, tapi justru pulang dengan hati yang lebih penuh dan pikiran yang lebih ringan? Itu yang saya rasakan setelah ikut ekowisata ke Desa Sade, bagian dari paket wisata Lombok 2 hari 1 malam bersama teman-teman komunitas pecinta alam dan budaya.
Awalnya saya cuma ingin lihat-lihat rumah adat dan mungkin beli kain tenun. Tapi yang saya dapat justru jauh lebih dari itu—interaksi manusia yang tulus, pemandangan yang bikin diam tanpa alasan, dan nilai hidup yang terasa sangat dalam dari kesederhanaan warga Sade.
Perjalanan Menuju Desa yang Masih Bernapas Tradisi
Kami berangkat dari Mataram pagi hari. Perjalanan menuju Desa Sade memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jalanan berkelok, tapi penuh dengan pemandangan hijau—sawah, bukit, dan pepohonan rindang.
Begitu sampai di gerbang desa, suasananya langsung berbeda. Rumah-rumah beratap alang-alang, dinding bambu, dan jalan setapak yang masih berupa tanah liat. Anak-anak kecil menyambut dengan tawa riang dan para ibu sedang menenun sambil berbincang di bale-bale. Tidak ada hiruk pikuk. Hanya kehidupan yang berjalan lambat, namun terasa utuh.
Pagi Hari Bersama Petani Lokal
Hari pertama kami mulai dengan menyusuri ladang bersama salah satu petani lokal bernama Pak Lalu. Ia mengajak kami melihat sistem irigasi tradisional yang masih digunakan di Sade. Tanpa mesin, tanpa teknologi canggih. Hanya bambu, gravitasi, dan kekompakan warga.
Kami sempat ikut membantu menanam padi di sawah. Sepatu lepas, kaki masuk ke lumpur, tertawa-tawa karena terpeleset. Tapi ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika kamu menyatu dengan tanah, dan menyadari betapa setiap butir nasi itu ternyata datang dari proses yang panjang dan penuh ketulusan.
Pak Lalu bilang, “Kami tanam nggak hanya untuk makan, tapi juga untuk belajar sabar.”
Kalimat itu saya catat di notes ponsel. Karena rasanya seperti nasihat hidup yang datang tanpa menggurui.
Menenun, Mencicipi, dan Mendengarkan Cerita
Sore harinya, kami belajar menenun di salah satu rumah warga. Ibu-ibu di sana sangat sabar menjelaskan setiap langkah—dari memilih benang, memintalnya, sampai mulai membuat pola di atas alat tenun tradisional.
Saya cuma bisa bertahan lima menit sebelum jari-jari mulai pegal. Tapi dari sana saya tahu, bahwa setiap kain tenun yang dijual di pinggir jalan itu bukan sekadar oleh-oleh. Ia adalah hasil karya yang penuh perhitungan, cinta, dan warisan turun-temurun.
Setelah itu kami mencicipi beberapa kudapan lokal seperti “jaje begibung” dan teh daun kelor hangat. Duduk melingkar sambil ngobrol santai. Tak ada wifi, tak ada musik dari speaker. Tapi obrolan kami malam itu sangat berisi. Warga bercerita tentang filosofi rumah adat, tentang tata cara menjaga alam, tentang bagaimana mereka menyeimbangkan kehidupan modern dan adat yang terus mereka jaga.
Bangun Pagi dengan Bunyi Alam
Hari kedua dimulai dengan suara ayam, desir angin, dan kicau burung. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Kami sempat jalan pagi menyusuri pematang sawah, lalu diajak ke bukit kecil di belakang desa. Dari sana, kita bisa melihat keseluruhan Desa Sade dari ketinggian—atap-atap rumbia yang tersusun rapi, dan sawah menghijau sejauh mata memandang.
Di tempat itu, kami melakukan refleksi singkat. Duduk diam, mendengarkan bunyi alam. Salah satu peserta bilang, “Kayaknya tubuh kita selama ini terlalu bising ya. Di sini rasanya tenang banget.” Dan saya setuju sepenuhnya.
Desa Sade, Ekowisata yang Membekas
Yang saya suka dari ekowisata di Desa Sade adalah semuanya terasa tulus. Tidak dibuat-buat. Tidak dipoles berlebihan. Kita datang sebagai tamu, dan benar-benar disambut sebagai keluarga.
Dalam dua hari satu malam itu, saya merasa kembali belajar arti cukup, arti kerja keras, dan arti saling jaga antar sesama manusia maupun dengan alam. Desa Sade bukan tempat untuk sekadar mampir dan foto-foto. Ia adalah tempat untuk menyerap, merenung, dan memperbarui cara pandang kita tentang hidup.
Kalau kamu sedang mencari liburan yang menyentuh hati dan bukan hanya menyenangkan mata, maka Desa Sade layak banget kamu datangi. Bukan cuma karena pemandangannya yang indah, tapi karena nilai-nilai kehidupan yang secara halus akan mengisi ruang kosong dalam diri kita. Dan mungkin… akan membuat kita pulang dengan versi diri yang lebih sederhana tapi bahagia.